Proyek Jalan Kapten Muslim Rabat Beton di Kotamadya Medan APBD Tahun 2019 Diduga Asal Jadi

SN – MEDAN || Sejumlah pekerjaan infrastruktur jalan di Kota Medan masih belum sesuai harapan seperti yang sebenarnya. Sejumlah kegiatan peningkatan jalan dalam bentuk betonisasi diketahui masih dinilai berkualitas jelek.

Salah satu pekerjaan yang diduga tidak memenuhi spesisifikasi teknis adalah pekerjaan peningkatan jalan Kapten Muslim Sei sikambing Medan yang dikerjakan CV Budi mulia dengan nilai pagu anggaran Rp. 8.500.000.000,00,- , dengan panjang, lebar tidak diketahui karna tidak menggunakan plang proyek.

Pekerjaan tersebut dibiayai dari dana APBD 2019 ini diduga kuat tidak sesuai dengan RAB semestinya.

Dari penulusuaran dan pantauan tim Siasatnusantara.com, di lokasi proyek selama pekerjaan betonisasi di ruas jalan Kapten muslim sei sekambing medan, secara kasat mata ditemukan beberapa kejanggalan diantaranya, Retak pada pekerjaannya, penggunaan plastik cor ( Polytene) sebagai lantai kerja cor beton hanya dipasang pada sisi samping tidak dihampar memanjang secara sejajar dengan bekesting dimana plastik cor tidak menutup bagian dari bekesting.

Padahal fungsi dari pekerjaan pemasangan Polytene (plastik cor) untuk menutup bekisting sehingga celah-celah pada bagian bawah bekisting tertutup. Sehingga pada waktu pelaksanaan pengecoran air semen tidak akan keluar dari adukan beton yang baru dicor.

Demikian juga peralatan yang digunakan, pada pelaksanaan pekerjaan tersebut terlihat tidak menggunakan concrete Vibrator sebuah mesin vibrator yang banyak diaplikasikan pada pekerjaan pengecoran, konstruksi jalan dan pekerjaan sipil lainnya yang bertujuan untuk memaksimalkan produktivitas dan kinerja.

Kemudian concrete pavers yang alat berat ini biasanya digunakan untuk pekerjaan beton untuk menghampar beton ready mix yang fungsinya seperti pada pekerjaan aspal finisher dan digunakan dalam proses pengecoran jalan raya beton (“rigid pavement”) secara menerus dengan jaminan kualitas, kemiringan, dan kerataan sesuai dengan titik yang ditentukan dengan sangat akurat.

Terpantau juga pada pelaksanaan curing ( Perawatan beton ) setelah beton mencapai final setting, artinya beton telah mengeras. Tidak dilaksanakan, sehingga beton dikawatirkan akan mengalami keretakan karena kehilangan air yang begitu cepat.

Ditemukan pada sejumlah titik lokasi tidak terpasangan tulangan dowel.Selain itu, pada pekerjaan pengecoran lantai kerja ( B0 ), pada pelaksanaan proyek dimaksud ratusan meter tidak didapati adanya pekerjaan pengecoran lantai dasar sesuai ketentuannya.Ironisnya hasil kodril dan sampel hanya dilakukan di beberapa titik saja.

Terpisah Perwakilan Cv.Budi Mulia, Herman, dan bapak Sirait selaku pengawas pada dinas Pekerjaan umum “kegiatan proyek tersebut masalah terjadi retak beton pasti akan dikerjakan lagi dan akan menempelnya nanti dengan pemeliharaan dan menyatakan jika hal seperti retak tersebut hal yang biasa saja”. Pungkasnya

Namun pantauan media menduga jika proyek tersebut dikerjakan asal- asalan atau diduga kuat tidak sesuai dengan spesifikasi teknis dan RAB. Namun, bapak sirait sebagai pengawas ternama di kota medan tersebut menyatakan sikap hal biasa aja setelah diperlihatkan hasil temuan tim siasatnusantara.com dari lokasi proyek dimaksud.

” Jika retak retak itu sih biasa aja sedangkan pembangunan jalan tol aja bisa retak juga ,”ujarnya singkat.

Sementara plt Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum ( DPU ) Kota medan, Mukhyar mengatakan, pihaknya sudah berkordinasi dengan pengawas dan kontraktor. Namun demikian kata Mukhyar, bilamana ada terjadi kesalahan atau ditemukan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis pada proyek tersebut, pihaknya sudah menyerahkan tanggung jawabnya kepada konsultan pengawas dan kontraktor pelaksana proyek.

” Coba abang jumpai aja pihak cv budi mulia ke lokasi proyek, biar saya bisa hubungi melalui telphone langsung aja tanya kesana” pungkas plt kadis pu tersebut

Tokoh masyarakat, fedianta Sembiring mengatakan, hasil temuan di lapangan, pekerjaan fisik dari APBD tahun 2019 kualitasnya sangat jelek. DPU Kota Medan harus langsung menindak lanjuti permasalahan pekerjaan di lapangan. Karena hal itu dilakukan sebagai bentuk pengawasan instansinya agar pekerjaan tersebut bisa teresalisasi sesuai dengan petunjuk teknis yang ada. (Dony)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *