Guru Matematika PNS “Herbin Manurung” Mengelak Dari Pukulan Guru Olah Raga honor “Anak Kepala Sekolah ” di SMA Negeri 8 Medan, Saat Proses Belajar Mengajar Sedang Berlangsung

Siasatnusantara.com – Medan || 30 Januari 2020 Seorang guru bernama Herbin Manurung (50 Tahun) yang bertugas sebagai guru PNS Matematika di SMA negeri 8 Medan jalan sampali, kelurahan Pandau hulu 2, kecamatan Medan Area, Kota Medan Sumatera Utara hampir terkena pukulan oleh salah seorang guru Olah Raga honorer berinisial ” DP ” Rabu pagi 29 Januari 2020 di ruang kelas XII IPA di lantai 3 saat proses belajar mengajar sedang berlangsung tepat didepan puluhan siswa/i.

Herbin mengungkapkan bahwa dia didatangi seorang guru honor olah Raga ke ruang kelas saat ia sedang mengajar para siswa/i yang berada di lantai 3 gedung SMA negeri 8 Medan langsung marah-marah kepada dirinya dan terjadi keributan di depan puluhan anak didik.

Saat keributan terjadi, oknum guru honor tersebut melayangkan pukulan ke arah kepala Herbin Manurung namun dapat dielak sehingga tidak sampai menyentuh kepala dari Herbin Manurung. Kejadian tersebut disaksikan langsung oleh siswa/siswi.

Spontan para siswa langsung berteriak histeris dalam ruang kelas saat itu. Para siswa laki laki sempat emosi melihat ulah oknum guru tersebut dan langsung mengejarnya “setelah melayangkan pukulan” turun ke lantai dasar gedung meninggalkan ruangan.

Herbin mengaku tidak tahu kenapa guru honor bidang studi olah raga yang merupakan anak kepala sekolah SMA Negeri 8 tersebut menyerangnya hingga ke ruang kelas saat proses belajar mengajar berlangsung.

Menurut Herbin Manurung, kejadian itu diduga merupakan buntut dari perselisihanan dan ketidakcocokan antara kepala sekolah dengan beberapa guru yang kritis terhadap kebijakan kepala sekolah terkait penggunaan dana BOS dan uang pungutan komite sekolah yang tidak ada laporannya selama 3 tahun kepada orang tua siswa dan saat di cek melalui online di website tidak ada laporan pertanggung jawaban Dana Bos SMA N 8 MEDAN terlihat.

Lanjut Herbin, bendahara komite sekolah tidak pernah memungut uang komite dari siswa, melainkan di pungut oleh salah satu pegawai honor di sekolah SMA negeri 8 Medan.

Informasi dari narasumber lain yang diterima oleh wartawan bahwa uang yang dipungut oleh pegawai honor dari para siswa/i SMA Negeri 8 Medan tersebut disetor kepada kepala sekolah. Setiap bulan siswa menyetor uang Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah).

Menurut informasi Ada sekitar lebih kurang 935 orang siswa/i yang terdaftar di sekolah SMA Negeri 8 Medan dan jika dikalikan dengan Rp 150.000 per bulan maka hasilnya berkisar Rp 140.250.000,- (seratus empat puluh juta dua ratus lima puluh ribu rupiah) uang yang di pungut dari para siswa setiap bulan dan jika setahun dapat mencapai hingga Rp 1.683. 000.000,- (sekitar 1 Milyar 683 juta rupiah).

Saat wartawan mendatangi sekolah SMA negeri 8 Medan Rabu siang 29 Januari 2020, kepala sekolah tidak ada di tempat dan mengaku sedang di luar.

Melalui sambungan telepon, sang Kepala Sekolah mengakui bahwa guru honorer yang ribut dengan guru PNS bernama Herbin Manurung tersebut adalah anaknya yang juga merupakan guru di SMA negeri 8 Medan.

“Kalau anak saya ya ..anak saya memang, tapi latar belakangnya kan apa gitu” ujarnya menjawab pertanyaan wartawan.

Awak media memohon agar bersedia bertemu saat itu untuk konfirmasi dan klarifikasi terkait Dana BOS dan Uang Sekolah Rp 150.000,- perbulan yang dikutip oleh salah seorang pegawai honor di sekolah tersebut, namun Kepala Sekolah yang diketahui bernama “Jongor Ranto Panjaitan” tersebut tidak bersedia.

Dia (Jongor Ranto Panjaitan) hanya menjawab tidak bisa memberikan keterangan karena kasus tersebut sudah dilaporkan dan ditangani oleh Kejaksaan Tinggi Medan, Inspektorat, dan Polrestabes Medan.

Selanjutnya wartawan mencoba bertanya kepada salah seorang perempuan yang datang menghampiri wartawan mengaku sebagai pejabat wakil kepala sekolah menyebut bahwa benar ada kejadian keributan yang terjadi antara guru PNS dengan guru honorer namun dia meminta agar persoalan tersebut tidak dipublikasikan.

“Saya mohon maaf kepada bapak supaya tidak mempublikasikan kejadian ini biarlah intern kami menyelesaikan masalah kami” ujarnya.

Namun sang perempuan tersebut tidak mau menyebutkan namanya kepada awak media dan mengajukan protes karena wartawan mengambil gambar beberapa ruangan termasuk kaca pintu yang pecah akibat dipukul oleh oknum guru honor tersebut.

“Kenapa foto-foto tanpa seijin kami, saya minta bapak keluar dari sini ” ujarnya dengan suara yang tegas.

Namun di saat yang sama awak media mengatakan bahwa wartawan dalam menjalankan tugasnya dilindungi undang-undang dan tidak bisa dilarang dalam mengambil gambar di gedung-gedung milik Rakyat. Kemudian perempuan tersebut pergi meninggalkan wartawan yang sedang meliput.

Selang kira-kira 30 menit kemudian setelah terjadi perselisihan antara wartawan dengan perempuan yang mengaku sebagai pembantu kepala sekolah di SMA Negeri 8 Medan itu, tampak Kapolsek Medan area datang bersama anggotanya menemui sang perempuan tersebut di ruangannya namun awak media tidak mengetahui persis kepentingan apa Kapolsek Medan area datang ke SMA negeri 8 Medan.

Kapolsek Medan area Kompol faidir Chaniago saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp mengaku benar datang ke SMA negeri 8 Medan untuk mengamankan keributan namun saat tiba di objek tidak mendapatkan adanya keributan.

“Cek ke benaran apakah betul ada keributan di Objek, Saya blm tahu yang mana wartawan krn saya ke situ mengamankan klu ada keributan sy datang aman2 saja” demikian isi pesan whatsapp Kapolsek Medan Area membalas pertanyaan wartawan.

Hingga berita ini diturunkan wartawan belum berhasil mengkonfirmasi peristiwa tersebut kepada oknum guru honorer yang merupakan anak dari kepala Sekolah SMA negeri 8 Medan itu. (Berthon Siregar / tim)

2 comments

  • Leony angelina hutajulu

    Saya alumni sman negeri 8 stambuk 2017, memang guru olahraga memang tidak becus, suka hatinya, tahun lalu anak murid dipukulnya, sekarang guru kami pak herbin yg terkhusus sudah pns. Sebaiknya walaupun ada masalah yang terkait di sekolah jangan langsung main hakim sendiri dan saya juga tidak setuju ada nepotisme berlaku di instansi pemerintah seperti sekolah negeri, tolonglah hukum harus berjalan

  • Pingback: click the up coming web page

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *