Kunjungan Jokowi ke Abudhabi

Siasatnusantara.com – Jakarta || Jokowi melakukan kunjungan ke Abudhabi (UEA). Kunjungan ini sebagai balasan atas kunjungan Mohamed bin Zayed (MBZ) ke Bogor pada 24 Juli 2019 yang lalu. Misi kunjungan Jokowi adalah kerja sama ekonomi, khususnya investasi UEA di Indonesia. Jokowi diberi kehormatan menyampaikan pidato kunci di Abu Dhabi Sustainability Week. Ini penghormatan yang luar biasa. Bahkan MBZ menyebut Jokowi “ Big Brother “.

UEA adalah importir terbesar AS, mengalahkan India yang berpendudukan 1,3 miliar orang. UAE adalah mitra surplus perdagangan terbesar ketiga Amerika di seluruh dunia. UEA adalah investor utama AS di sektor real. Pertumbuhan FDI UEA ke AS tercepat ke 7 di AS. Pasar ekspor AS terbesar ke-16 secara global. Hubungan perdagangan ini mendukung lebih dari 104.000 lapangan pekerjaan bagi rakyat AS. Kedua negara memiliki persahabatan lama. AS adalah negara ketiga yang menjalin hubungan diplomatik formal dengan UEA pada 1971, membuka kedutaan di Abu Dhabi setahun kemudian, sementara UEA mendirikan kedutaannya di Washington, DC pada 1974.

Pada bulan Mei tahun lalu, Shaikh Mohammad Bin Zayed Al Nahyan, bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih untuk membahas masalah keamanan regional dan menegaskan kembali kemitraan keamanan AS-UEA. Soal kemitraan pertahanan, kedekatan UEA dengan AS sama dengan Arab. UEA merupakan salah satu pembeli terbesar alat perang made in USA. 30% impor UEA dari AS adalah alat perang. Jadi kalau boleh menyimpulkan bahwa UEA adalah second home bagi AS. Namun walau AS berseteru dengan China, UEA ambil bagian dari program OBOR China. China membantu UEA dalam mendiversifikasi ekonomi nya dari MIGAS ke Industri dan pariwisata. UEA bukan kadrun. Mereka sangat moderat.

Apa yang dapat saya maknai dari kunjungan Jokowi ke UEA adalah cara smart Jokowi melobi AS untuk melunakan sikap AS di Laut China Selatan, dan meminta AS memahami kebijakan Indonesia membangun Alur Laut Kepulauaan Indonesia (ALKI) 2 melalui Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi. Ini sebagai solusi dari ketegangan hubungan antara China dan AS di Laut China Selatan, khususnya perebutan jalur Selat Malaka. Bahkan Jokowi menawarkan investasi UEA ke Ibukota Baru Kalimantan, dengan memberikan posisi terhormat Shaikh Mohammad Bin Zayed sebagai Dewas Ibukota Baru.

Palsafah China mengajarkan, kalau ingin menaklukan kuda, harus pakai kuda. Mendekati UEA cara jenial Jokowi melunakan sikap AS, dan sekaligus menghentikan embargo dagang yang dilakukan oleh Uni Eropa terhadap komoditas CPO. Dengan cara itu, tidak perlu membuat China merasa cemburu. Karena toh bagi China, UEA adalah “another lady”, walau bukan second home. Politik international Jokowi adalah politik real, bukan drama seperti ngomong di PBB. Karena jokowi bukan tukang drama yang doyan ngomong di forum dagelan semacam PBB. Jokowi orang kerja, dan orientasinya adalah hasil, mutual benefit. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *