Masyarakat Parapat Meminta Pemerintah Perhatikan Tabung gas Bersubsidi Agar Terarah Penjualannya Sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi) Bukan Ke Restoran & Rumah Makan

Parapat, siasatnusantara.com || Sabtu, 4 Januari 2020,

SN – PARAPAT || Masyarakat di kabupaten Simalungun Sumatera Utara khususnya sekitar kota pariwisata Parapat kesulitan mendapatkan tabung gas subsidi LPG 3 kg di sekitaran Parapat sejak tanggal 28 Desember 2019 hingga 2 Januari 2020.

Penyebabnya karena banyak restoran dan rumah makan di lokasi Parapat yang menggunakan tabung gas 3 kg yang notabene merupakan gas yang disubsidi oleh pemerintah untuk masyarakat yang kurang mampu atau kelas menengah ke bawah.

Salah satunya adalah rumah makan Gumarang dimana mereka menggunakan tabung gas 3 kg dan tabung gas 12 kg dalam menjalankan usahanya

Saat wartawan media ini menyambangi rumah makan yang dimaksud terlihat jelas bahwa mereka menggunakan tabung gas 3 kg dan tabung gas 12 kg secara bersamaan untuk memproduksi makanan barang dagangannya.

Saat ditanya mengapa menggunakan gas 33 kg mereka menjawab karena ketersediaan gas 12 kg berkurang dan terpaksa menggunakan gas ukuran 3 kilogram yang dibeli dari pengecer seharga harga lebih dari Rp 20.000, 00.

Pemilik rumah makan Gumarang mengakui bahwa mereka tidak tahu kalau gas 3 kg adalah barang subsidi yang dikhususkan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah

Di tempat lain warga yang diwawancarai mengaku kesulitan mendapatkan gas 3 kg di pangkalan resmi yang harganya sesuai yang ditetapkan oleh pemerintah dan merasa keberatan atas adanya rumah makan yang masih memakai gas 3 kg bersubsidi untuk produktivitas usahanya.

“Susah kali kami mendapatkan gas 3 kg di pangkalan kami terpaksa membeli gas 3 kg ke pengecer itupun harganya sangat mahal, jadi kami mohon kepada pemerintah atau pun Pertamina supaya mengawasi penyaluran gas 3 kg ini supaya tepat sasaran kepada warga kelas menengah ke bawah”. ujar salah seorang warga Parapat yang tidak mau dituliskan namanya di media ini.

Saat wartawan mencoba mendatangi salah satu pangkalan di kawasan jalan sisingamangaraja Parapat yang disebutkan oleh warga benar bahwa persediaan tabung gas di pangkalan tersebut pada tanggal 2 Januari 2020 kosong.

Kuat dugaan ada permainan pangkalan menjual tabung gas bersubsidi 3 kg diatas harga eceran tertinggi (HET) ke pihak-pihak yang tidak layak untuk menggunakan gas tersebut seperti restoran dan rumah makan serta masyarakat Parapat yang ekonominya terbilang mampu.

Sehingga ketersediaan gas 3 kg yang ada di pangkalan selalu mengalami kekosongan saat masyarakat Parapat ingin mendapatkan gas 3 kg dari pangkalan yang resmi kembali dengan tangan kosong dan terpaksa membeli dari pengecer yang harganya jauh lebih mahal dari harga di pangkalan.

Sampai berita ini diturunkan wartawan media siasat nusantara.com belum berhasil mengkonfirmasi camat Girsang sipangan bolon dan lurah Parapat terkait masalah penyaluran gas 3 kg elpiji ini.

Warga Parapat mengharapkan Pertamina dan pihak kepolisian melakukan tindakan terhadap pangkalan-pangkalan nakal yang menjual gas elpiji 3 kg ke pengusaha-pengusaha maupun restoran-restoran agar masyarakat yang seharusnya layak mendapatkan gas elpiji tidak dirugikan akibat ulah ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. (Berthon.S / Tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *