Wartawan Dianiaya Kasi Trantib Saat Meliput MTQ Deli Serdang

Sigit parmono wartawan

SN – Deliserdang || Kembali lagi kekerasan terjadi terhadap awak media, hal itu terjadi di wilayah hukum percut sei tuan. Sudah jelas adanya undang undang yang mengatur terkait pers No.40 tahun 1999 tentang kebebasan pers.

Namun hal itu masih banyak dipandang sebelah mata oleh orang orang oknum yang tidak bertanggung jawab.

Sigit Parmono, wartawan Siasatnusantara.com mendapat perlakuan buruk dari oknum kasi Trantib saat meliput acara penutupan MTQ berlangsung, Di kecamatan Percut sei tuan. kamis, (13/02) sekitar pukul 22:00 wib.

Dianya mendapat kekerasan fisik lehernya di viting dan kerah bajunya ditarik sampai koyak oleh Kasi Trantib bernama J.Putra Dalimunthe

Dalam hal itu dirinya, akan berupaya menempuhan jalur hukum. terhadap kasi trantib kecamatan Percut Sei tuan atas arogansi yang sudah merugikan dirinya dan menghalangi dirinya dalam melaksanakan tugas.

“Saat itu saya sedang meliput namun tiba tiba seorang pegawai kasih trantib kecamatan Percut Sei tuan langsung jumpai saya, dengan cara memiting dan menarik kerah baju saya dan mengajak saya untuk berduel atau berkelahi di saat acara penutupan MTQ berlangsung,” katanya kepada pimpinan siasatnusantara.com setelah kejadian.

Anggota kasi trantib yang arogan di percut sei tuan j.Putra Dalimunthe

“Pas lagi ambil gambar footage, orang-orang di acara tersebut tiba-tiba seorang pegawai kasi trantib lari, Aku kira enggak akan kenapa-kenapa. Makanya agak santai sedikit,” jelas sigit, lalu menjelaskan tiba-tiba seorang pegawai trantib tersebut langsung menarik kerah leher baju saya dan berkata

“Apa salahku samamu kenapa kau beritakan terkait lemari berkas itu.,” kata kasi trantib tersebut se penuturan sigit.

“Dianya nyolot ke aku, Aku ditarik terus hingga kepinggir pasar dan hendak mau dipukul di bagian wajah kananku. Lumayan sakit. Buatku itu cukup keras. Itu kekerasan fisik.”

Tidak lama setelah itu sigit didatangi lagi oleh orang sekitar. Jumlahnya lebih banyak, sekitar 7-8. ternyata mereka hanya memisahkan aja.

“Aku sudah bilang aku pers. Tunjukkan kartu. Pakai ini (kartu pers) dari awal, enggak pernah lepas. Ini satu-satunya pelindungku. Intinya kasi trantib tersebut sangat emosi. Enggak mau tahu aku pers atau bukan,” sigit menambahkan.

Sigit bilang tak ada hal-hal sensitif—misalnya kekerasan dalam peliputan—yang ia rekam lewat gawainya.

Arogannya kasi trantib desa tembung kecamatan Percut sei tuan terhadap awak media sudah sangat jelas telah mengkangkangi dan melanggar UU No.40 tahun 1999 tentang pers (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *