Jaksa Tuntut Pencuri Tabung Gas “Senilai Rp 300.000,” 2 Tahun Penjara di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam kelas IA tempat sidang labuhan Deli, Keluarga : “anakku diperlakukan lebih berat dari koruptor”

Siasatnusantara.com – Deli Serdang || Kejaksaan Negeri lubuk pakam cabang labuhan Deli menuntut seorang pencuri tabung gas bernama Nasib Siagian (26) di pengadilan Negeri kelas 1A tempat sidang labuhan Deli tepatnya di ruang sidang I pada Rabu siang 18 Maret 2020.

Terdakwa Nasib Siagian dituntut di depan sidang pengadilan karena kasus pencurian tabung gas melon 2 buah senilai Rp 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) pada sekitar Desember 2019 lalu tepatnya di warung cafe black jalan Tempuling.

Pengakuannya di persidangan, Nasib Siagian mengaku mencuri tabung gas tersebut dari cafe black jalan Tempuling Medan seorang diri sembari temannya menunggu di jalan dengan sepeda motor. saat itu juga mereka disergap warga dan langsung dipukuli oleh massa yang ada di lokasi saat itu.

Tidak beberapa lama berselang petugas dari polsek Percut sei tuan mengamankan dan membawa terdakwa Nasib Siagian ke kantor polisi Polsek Percut sei tuan.

dengan adanya kejadian tersebut Polsek Percut sei tuan langsung sigap untuk melakukan proses hukum terhadap Nasib Siagian dan langsung melakukan penahanan terhadap diri Nasib.

keluarga yang hadir saat itu di Polsek Percut sei tuan (2 hari berselang) sempat kecewa dengan perlakuan dari personil Polsek Percut sei tuan karena tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari pihak kepolisian Polsek sei tuan.

kakak terdakwa bernama Roka Siagian sempat menangis dihadapan penyidik bermarga Tobing karena tidak diperlakukan dengan baik oleh penyidik yang menangani kasus tersebut, dimana pihak keluarga tidak diijinkan untuk menjenguk nasib Siagian untuk mengetahui keadaan diri Nasib Siagian yang babak belur dihajar oleh masa.

Polsek Percut seituan juga tidak menerima laporan keluarga dari nasib Siagian di Polsek Percut sei tuan untuk melaporkan tindak pidana penganiayaan dan pengeroyokan yang dialaminya pada saat itu karena keluarga tidak terima dengan upaya masyarakat yang main hakim sendiri terhadap Nasib Siagian sehingga mengalami luka luka lebam dan kepala bocor mengeluarkan darah.

Menurut Roka Siagian perbuatan main hakim sendiri tersebut tidak layak dilakukan kepada adiknya karena barang yang dicuri tersebut nilainya hanya Rp 300.000 dan pencurian tersebut tidak dilakukan dengan kekerasan atau pengancaman terlebih dahulu.

Aktivis hukum bernama RASIDIN dari komisariat wilayah Sumatera Utara pada Lembaga REKLASERIN INDONESIA, menyebut kasus tersebut seharusnya cukup di proses di kepolisian dan tidak perlu sampai ke pengadilan,.

Ditegaskannya kasus tersebut cukup hanya diselesaikan di Polsek karena nilai kerugian tidak lebih dari Rp 2.500.000, dimana tabung gas yang dicuri itu hanya bernilai Rp 300.000 dan tidak sesuai dengan peraturan mahkamah agung nomor 2 tahun 2012 tentang batasan nilai kerugian pada tindak pidana ringan.

“ada surat edaran mahkamah agung dimana mengatur kalau kerugian kasus pencurian tidak lebih dari Rp 2.500.000,- maka cukup diselesaikan di di tingkat kepolisian saja” ujarnya dengan raut wajah kecewa.

“Kasus tersebut sebenarnya tidak layak untuk disidangkan di pengadilan Negeri karena nilai kerugian nya hanya Rp 300.000,- dan tidak sesuai dengan surat edaran mahkamah agung no 2 tahun 2012, Kasus seperti ini saya rasa tidak adil, apalagi jaksa menuntut dengan tuntutan 2 tahun penjara ” sambungnya.

Dia juga menyoroti apabila kasus kasus serupa di proses di pengadilan malah akan menyebabkan kerugian bagi Negara karna Negara akan Menanggung biaya hidup terdakwa selama proses penahanan. Sementara kerugian hanya Rp 300.000, (tiga ratus ribu rupiah).

RASIDIN juga menyoroti daya tampung rumah tahanan negara yang sudah overload. Menurutnya kapasitas lembaga pemasyarakatan di Sumut sudah melebihi kapasitas.

Menurutnya kapasitas yg overload akan menjadikan hak-hak azasi manusia dari para terpidana akan berpotensi dilanggar oleh Negara. Dia juga menyoroti keterpenuhan kebutuhan pokok para Narapidana, terutama makanan dan minuman serta kesehatan selama dalam Tahanan Negara yang overload tersebut.

Kasus yang menimpa Nasib Siagian karena mencuri tabung gas melon seharga Rp 300.000,- berbeda perlakuan terhadap penanganan kasus korupsi dimana Kabareskrim Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto menyebut bahwa korupsi bisa lepas dari jerat pidana apabila mengembalikan uang yang dikorupsi.

Dikutip dari pemberitaan median online Kompas.com 28-02-2018 , Kabareskrim Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto mengungkapkan, dalam kesepakatan tersebut, oknum pejabat pemerintahan daerah yang terindikasi melakukan korupsi bisa dihentikan perkaranya jika mengembalikan uang yang dikorupsinya.

“Kalau masih penyelidikan kemudian si tersangka mengembalikan uangnya, kami lihat mungkin persoalan ini tidak kita lanjutkan ke penyidikan,” kata Ari di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (28/2/2018). Isi kutipan yang dilansir dari Kompas.com 18-03-2020.

Di rumahnya, Tauan Siagian (68), Bapak kandung Nasib Siagian, merasa telah diperlakukan tidak adil oleh Polsek Percut seituan karena polisi dinilai telah memaksakan kasus tersebut sampai ke pengadilan hanya karena persoalan tabung gas melon 3 kg seharga Rp 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah).

Dia menyebut sempat berdamai dengan pemilik tabung dan sudah maaf-maafan dengan pemilik tabung namun polisi masih tetap memproses hukum kasus tersebut yang menurutnya kasus tersebut seharusnya tidak perlu dilanjutkan karena nilai barang yang dicuri hanya Rp 300.000,-

Saat bincang bincang dengan wartawan, Tauan Siagian (17-03-2020) mengungkapkan kekesalannya kepada penegakan hukum di Indonesia tidak adil karena anaknya diadili melebihi perlakuan terhadap seorang koruptor.

“Aku sangat menyesalkan Negara ini memperlakukan anakku tidak adil lebih dari koruptor lah anakku ini dibuat penegak hukum di negeri ini ” ujarnya dengan nada kesal.

Bapak kandung Nasib Siagian kini berharap kepada majelis Hakim yang menyidangkan perkara tersebut agar mempertimbangkan putusan yang pantas bagi terdakwa Nasib Siagian dan memenuhi rasa keadilan sebagai manusia. Mengingat kapasitas Rumah Tahanan Negara maupun Lembaga pemasyarakatan yang ada di Sumut juga sudah over kapasitas.

“harapan saya kepada hakim nantinya dapat memperlakukan anakku dengan rasa keadilan dan mempertimbangkan rasa kemanusiaan karena lembaga pemasyarakatan pun sudah penuh, lantaran nilai barang yang dicuri nya hanya Rp300.000 jadi saya mohon kepada hakim agar memutus perkara ini dengan rasa kemanusiaan itu saja.” Sambungnya.

Sidang lanjutan atas perkara pencurian tabung gas yang dilakukan oleh Nasib Siagian dengan agenda pembacaan nota pembelaan dari Penasihat Hukum Nasib Siagian akan kembali di gelar di pengadilan Negeri kelas 1A tempat sidang labuhan Deli Rabu siang pekan depan 25 Maret 2020. (BERTHON Siregar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *