Peti Emaskan Kasus Supriadi Korban Minta Kapolrestabes Medan Tinjau Kembali Kinerja Kapolsek Percut Seituan

Siasat Nusantara. Com – Medan || Orang bijak pasti akan merasa malu jika kata -katanya lebih baik dari tindakannya. Polsek Percut Seituan, Jalan Letda Sujono No.50 Medan-Sumatera Utara kembali mencoreng wajah Polri dengan bobroknya kinerja jajarannya. Disini nampak jelas, bahwa oknum Polsek Percut Seituan yang tidak bertanggung jawab melakukan perbuatan/tindakan hanya untuk mementingkan diri sendiri dan lebih parahnya lagi tidak mengindahkan MAKNA TRIBATA POLRI itu sendiri.

Di wilayah hukum ini, masyarakat sudah kritis kepercayaan akan kinerja jajaran Polsek Percut Seituan. Banyak laporan/keluhan masyarakat hanya melintas begitu saja tanpa di tindaklanjuti hanya karena kekuasaan dan uang.

Masih ingat dengan berita pengendapan kasus yang menimpa Supriadi, salah seorang korban penganiayaan? Berdasarkan Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) nomor : STTLP/3706/Xll/2015/SPKT PERCUT, korban atas nama Supriadi (48th) warga Pondok Rawa Desa Sampali Kelurahan Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan, datang kepada Tim Redaksi Siasat Nusantara news mengadukan nasibnya.

Korban tidak puas akan kinerja Polsek Percut Seituan terhadap kasus penganiayaan yang menimpanya, Selama 4 (empat) tahun, korban meminta dan menunggu kepastian hukum terhadap pelaku yang hingga berita ini diturunkan belum ada tindakan tegas.

Dalam Surat Laporan tersebut, LEGIMAN, CS yang di laporkan oleh korban hingga kini belum ditangkap dan masih bebas berkeliaran. Jangankan korban, warga sekitarnya beranggapan kalau pelaku terkesan kebal dan membeli hukum.

Korban Supriadi dianiaya oleh LEGIMAN, CS pada hari Kamis (26/12/2015) sekitar pukul 10:00 Wib di areal PTPN ll DP l Blok 77dan 78 yang dikontrak oleh korban.

Akibat kejadian tersebut korban mengalami luka memar di bagian rahang kiri dan kepala bagian belakang terasa sakit akibat dipukul oleh para pelaku.

Untuk diingat kembali, bahwa awal mula tindak Penganiayaan ini terjadi pada saat Supriadi (korban) yang sedang mengerjakan lahan PTPN ll yang dikontraknya sedang menunggu traktor untuk mengolah lahan tersebut. Namun, secara tiba-tiba didatangi segerombolan masyarakat yang berjumlah kurang lebih 15 orang.

Gerombolan Massa tersebut melarang korban untuk mengerjakan lahan PTPN ll. Pada saat itu, dua orang di antara gerombolan massa yang di ketahui yaitu LEGIMAN dan Cs-nya memegangi korban dengan cara di peluk, sehingga korban tidak dapat bergerak hingga salah seorang pelaku memukuli bagian kepala korban.

Kapolsek percut seituan saat di konfirmasi melalui WA Hp Seluler, Sabtu 29/2/20 pukul 21:10 Wib: Kompol Aris bungkam saat di konfirmasikan oleh awak media.
Dalam hal ini, ada sebuah tanda tanya besar. Apakah sewaktu terima jabatan dari Kapolsek yang terdahulu, Kompol Aris tidak menerima laporan perihal kasus yang ada di di wilayah hukumnya?

Terkait hal diatas, penanganan kasus tersebut terkesan lamban dan mengulur -ngulur waktu dan kemungkinan kedua pelaku dapat saja melarikan diri. Disisi lain, akan berakibat pada asumsi negatif bagi masyarakat terhadap kinerja Polri khususnya Polsek Percut Sei Tuan yang lambat dan gentar menangkap pelaku yang menurut informasi di lapangan bahwa salah seorang keluarga pelaku berprofesi sebagai seorang pengacara dan memiliki LBH (Lembaga Bantuan Hukum).

Korban meminta kepada Kapolrestabes Medan untuk segera mengevaluasi kembali akan kinerja Polsek Percut Seituan dan segera menangkap pelaku penganiayaan tersebut. (Pantun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *