Polemik Pembagian Bantuan Sembako Terdampak Corona Di Binjai Sumut

siasatnusantara.com- Binjai II Jum’at 24/4, banyak sekali polemik tentang pembagian sembako teruntuk masyarakat yang terdampak Corona/Covid 19. Pemerintah kotamadya Binjai pada saat ini sedang melakukan pembagian sembako di mulai dari hari rabu (22/4) hingga saat ini,

Polemik yg terjadi dari tidak meratanya pembagian sembako, Berita Acara yang belum di kerjakan sebelumnya, Berkumpulnya Masyarakat di rumah Kepala Lingkungan, dan lain sebagainya.

Hampir di seluruh kelurahan pembagian ini banyak keluhan, masyarakat terus menuntut kepada kepala lingkungan dimana pada saat ini kepala lingkungan adalah ujung tombak dari pemerintah karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“kami kadang memberi data berapa yang kami terima berapa, kami bingung, yang seharusnya di kasih siapa cuma yang terdata entah siapa, kami yang di salahkan oleh masyarakat” ujar salah satu kepala lingkungan yang tidak ingin di sebut namanya.

Data yang di himpun kepala lingkungan di berikan ke lurah dan selanjutnya lurah yang meneruskan prosesnya hingga ke camat dan dinas terkait.

Kebingungan ini juga membuat masyarakat Kota Binjai kocar kacir, masyarakat bingung mau ngadu kemana dan sama siapa, kepala lingkungan hanya berdalih sabar dan akan di ajukan kembali.

“pembagian sembako kali ini buat pusing, lucu, kami yang dekat sama kepling aja bingung kenapa ayah kami gak dapat” ujar aryudhi (27) salah satu keluarga yang tidak mendapatkan sembako.

Disisi lain wartawan menghubungi ketua DPRD Kota Binjai, H Noor Sri Syah Alam Putra yang biasa di sapa dengan Haji Kires.
“Data yang di keluarkan sementara itu 45000 KK, jadi yang belom dapat sabar, akan di masukan di tahap ke dua, akan di verifikasi kembali, masukan aja data ke kepling, jangan panik dan jangan resah kalian, pokoknya kasih aja datanya kembali ke kepling” ujar wakil rakyat nomer satu di Kota Binjai.

Sistem dadakan yang terbentuk ini menjadikan polemik yang mendalam bagi masyarakat, keluhan yang ada hanya di dapat di jawab dengan sabar, maka situasi ini hanya mengharapkan pengertian dari masyarakat walaupun terkadang sejengkal perut masyarakat tidak dapat di mengerti. (Ibe/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *