Lagi ! Ditengan Pandemi Covid-19, Aksi Penipuan Member Arisan Online Marak Terjadi

Siasatnusantara.com – Jawa Tengah || Arisan merupakan salah satu kegiatan yang awalnya kerap dijadikan ajang sosialisasi para kaum hawa.

Namun, seiring berjalannya waktu, arisan tak hanya bisa dilakukan dengan tatap muka langsung. Kini, arisan bisa diselenggarakan secara daring (online).  Di sinilah masyarakat, baik penyelenggara ataupun peserta perlu waspada. Disebabkan belakangan ini kerap terjadi penipuan yang mengatasnamakan arisan, baik oleh penyelenggara ataupun member (peserta arisan). Tak tanggung- tanggung, jumlah uang yang diraup bisa mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah.

Tak ubahnya yang menimpa pada penyelenggara arisan “Maret Online”,
dalam beberapa bulan ini sudah hampir ratusan juta uang yang dibawa kabur oleh member. Selaku admin retno & shandy sudah melakukan prosedur sesuai yang disepakati dengan member. Namun hal itu kerap dijadikan modus untuk melakukan aksi penipuan. “prosedur dalam perekrutan member sudah sangat selektife kami lakukan” Ungkap Retno.

Kami sangat kecewa dengan perbuatan yang dilakukan oleh member Lailatul Munawaroh, warga kabupaten jepara, kec pecangaan, desa troso 005/002, total uang yang sudah diperoleh 23jt dan itu tidak jelas untuk melakukan pembayaran ke Maret Online atau dengan kata lain bahwa lailatul telah melakukan penipuan dengan modus sebagai member di Maret Online.

Sebagai penasehat hukum Asmu’i Th, Sip SH mengatakan tak jarang arisan berbasis online banyak membawa mudharat, pasalnya, sejumlah arisan online justru menawarkan keuntungan fantastis yang membuat masyarakat tergiur. Kami berharap kepada member, ada baiknya segera memberikan kejelasan dan tanggungjawab terhadap apa yang sudah dilakukan atau setidaknya tunjukan itikad baiknya atau terpaksa kita akan tempuh dengan jalur hukum.

Dilihat dari sudut pandang yang berlaku umum selama ini, arisan sejatinya bukanlah kegiatan investasi yang menghasilkan keuntungan. “Arisan itu kan mempererat persaudaraan, mempererat tali silaturahmi. Kalau pun dapat uang dari arisan itu tidak lebih dari jumlah yang dibayar dikali jumlah peserta,” ucap Asmu’i kepada Siasatanusantara.com, Jum’at (5/6/2020).

Logikanya, jumlah uang yang didapatkan peserta arisan sesuai dengan dana yang dibayar lalu dikalikan dengan jumlah peserta. Misalnya, peserta diwajibkan membayar iuran arisan sebesar Rp500 ribu per bulan dengan jumlah anggota 10 orang. Maka, tiap peserta akan mendapatkan dana sebesar Rp5 juta.

Model arisan memang semakin modern saat ini, tapi apapun bentuknya tak menjadi soal jika dilakukan secara transparan. Selain itu, lagi-lagi ia mengingatkan, seluruh peserta yang ikut dalam arisan itu juga harus mengenal satu sama lain di dunia nyata, bukan kenal hanya dari media sosial.

Diketahui lailatul telah menerima pencairan dana arisan kurang lebih 23juta akan tetapi keberadaannya tidak diketahui sampat saat ini. Pihak admin sudah berulang kali kontak melalui telepon selulernya tapi tidak pernah direspon.

“Dimuatnya berita ini sebagai antisipasi karna maraknya arisan online yang dikelabui oleh ulah member, yang hanya baik diawal saja dan ketika haknya sudah didapat tapi kewajibannya tidak dilaksanakan, “Ujar Retno

Diharapkan bagi siapa saja yang berjumpa atau mengenal laiatul munawaroh dapat menghubungi kantor polisi terdekat atau bisa juga menghubungi saya melalui contact person +62 821-3861-6050. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *