Poin Penting Hasil Pertemuan Presiden AS dan Rusia di Jenewa

Siasatnusantara.com,Jakarta – Pertemuan tatap muka perdana Presiden Amerika Serikat Joe Biden dengan Presiden Rusia Vladimir Putin berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Rabu (16/6).

Pertemuan selama dua jam itu berlangsung ketika tensi hubungan Rusia dan AS terus memanas beberapa bulan terakhir.

Sejumlah pihak menganggap usai pertemuan tingkat tinggi itu selesai, relasi Gedung Putih dan Kremlin tampak tidak ada yang berubah atau menjadi lebih cair.

Meski kedua pemimpin tidak mengharapkan terobosan besar dalam pertemuan tersebut, Biden dan Putin menganggap tatap muka perdana mereka bisa membuat keduanya mulai mengerti posisi masing-masing, saling jujur, dan bergerak maju untuk relasi AS-Rusia.

Berikut lima poin yang bisa diambil dari pertemuan Biden dan Putin

1. Bangun Pemahaman dengan Putin

Meski tanpa tujuan yang jelas, keputusan Biden menggelar KTT dengan Putin bermuara pada pandangan soal kebijakan luar negeri.

Menurut Biden, kebijakan luar negeri suatu negara bergantung pada siapa pemimpinnya, dan hubungan sang pemimpin dengan pemimpin negara lainnya.

“Saya tahu kita membuat kebijakan luar negeri menjadi sebuah keterampilan yang hebat, yang entah bagaimana menjadi seakan sebuah kode rahasia,” kata Biden dalam jumpa pers usai bertemu Putin.

“Semua kebijakan luar negeri adalah perpanjangan logis dari hubungan pribadi. Ini adalah sifat alami manusia,” ujarnya menambahkan.

Biden menganggap secara keseluruhan pertemuannya dengan Putin berjalan positif.

“Intinya adalah, saya memberi tahu Presiden Putin bahwa kita perlu memiliki beberapa aturan dasar jalan yang dapat kita semua patuhi,” ucap Biden seperti dilansir CNN.

Sementara itu, Putin menganggap Biden sebagai seorang pemimpin yang seimbang dan profesional.

“Dan dia jelas sangat berpengalaman. Sepertinya kami memang berbicara dalam bahasa yang sama,” ujar Putin.

Meski begitu, Putin tak terlihat akan mengubah sikap dan aksi Rusia selama ini yang dinilai bermusuhan terhadap AS.

Putin juga tetap mencela para pengkritiknya, terutama aktivis Alexei Navalny yang dipenjara, dan menyangkal peran Rusia dalam serangan siber terhadap AS.

Putin juga menggambarkan dua jam pertemuan yang jujur dan pragmatis bersama Biden tidak mengarah pada hubungan yang mendalam atau emosional antara keduanya.

“Tapi pertemuan ini tentu tidak menyiratkan bahwa kami saling memandang dan bersumpah menjadi sahabat abadi,” kata Putin.

2. Putin Sebut Biden Tak Sama dengan Trump

Salah satu tujuan utama Biden dalam pertemuan dengan Putin adalah menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak begitu saja mempercayai Rusia, langkah yang diperlihatkan pendahulunya, Presiden Donald Trump, saat KTT AS-Rusia 2018 lalu.

Saat itu, Trump dengan mudah menyebut AS percaya bantahan Rusia bahwa Kremlin tak mengintervensi pemilu Negeri Paman Sam.

Biden dan Putin memutuskan tak menggelar konferensi pers bersama seperti yang dilakukan Trump tiga tahun lalu demi menghindari skenario serupa.

Bahkan Putin mengakui bahwa Biden jauh berbeda dari Trump, yang memiliki kedekatan dengan Rusia.

“Pendahulunya memiliki pandangan yang berbeda. Kali ini memutuskan untuk bertindak berbeda. Jawabannya berbeda dari Trump,” ucap Putin.

Sementara itu, Biden mengaku selama pertemuan ia menekan Putin dalam beberapa hal mulai dari campur tangan pemilu, serangan siber, hingga hak asasi manusia Rusia.

3. Mengangkat Posisi Putin

Pejabat AS merasa skeptis pertemuan dengan Rusia yang berlangsung di awal pemerintahan Biden ini bisa memberikan kesan yang dapat meninggikan status Rusia di panggung dunia.

Karena itu, Biden dan Putin tak menggelar konferensi pers bersama. Sebab, pejabat Gedung Putih khawatir hal itu berpotensi meningkatkan status Putin saat berdiri di samping Biden.

Namun, berbeda dengan para pendahulunya, selama pertemuan itu, Biden menganggap Rusia dan AS sebagai “dua negara dengan kekuatan besar”. Pilihan kata tersebut berbeda dengan pejabat AS lain yang berupaya mengecilkan pengaruh Rusia.

Bahkan, Presiden Barack Obama menggambarkan Rusia hanya sebagai “negara kekuatan regional” terutama setelah Moskow menginvasi Crimea.

4. Dialog Konstruktif

Putin mengaku pertemuannya dengan Biden berjalan konstruktif.

Menurut Putin, kedua belah pihak menunjukkan tekad untuk mencoba saling memahami satu sama lain dan mencoba menyamakan posisi.

“Saya pikir kedua belah pihak menunjukkan tekad mencoba saling memahami satu sama lain dan mencoba saling menyamakan posisi kami,” tutur Putin.

5. Perang Dunia Maya

Perang siber menjadi salah satu fokus pembicaraan Biden dengan Putin. Biden menjalaskan kepada Putin bahwa serangan dunia maya, khususnya rentetan peretasan ransomware baru-baru ini, menjadi tujuan utamanya bertemu dengan Putin.

Meski Putin menyangkal pemerintahannya terlibat peretasan itu, dia dan Biden sepakat menugaskan para ahli untuk “bekerja pada pemahaman khusus tentang apa yang terlarang dan untuk menindaklanjuti kasus-kasus tertentu.”

“Prinsipnya adalah satu hal, harus didukung praktik. Bagaimana perasaan Anda jika ransomware mengambil alih jaringan pipa dari ladang minyak Anda?” kata Biden kepada Putin.

Biden tak menjelaskan bagaiman respons Putin secara detail saat ia mengangkat isu perang siber.

Namun, ia menegaskan kepada Putin bahwa AS memiliki kemampuan siber yang signifikan sehingga dapat merespons setiap upaya serangan.

sumber : cnnindonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *